KEKERASAN STRUKTURAL DAN PERSONAL DALAM NASKAH DRAMA TUMIRAH SANG MUCIKARI KARYA SENO GUMIRA AJIDARMA TINJAUAN SOSIOLOGI SASTRA

Valentinus Ola Beding

Abstract


Penelitian ini mengkaji tentang kekerasan struktural dan personal dalam naskah drama Tumirah Sang Mucikari Karya Seno Gumira Ajidarma. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis unsur intrinsik yang dititikberatkan pada unsur alur dan tokoh dalam drama Tumirah Sang Mucikari untuk mengetahui kekerasan yang terjadi di dalamnya. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan sosiologi sastra, yaitu pendekatan yang bertolak dari asumsi bahwa sastra merupakan cerminan kehidupan masyarakat. Hasil dari penelitian ini adalah sebagai berikut: (1) Alur dalam novel Tumirah Sang Mucikari adalah alur maju. Peristiwa-peristiwa yang terjadi berjalan secara kornologis. Konflik utama dalam novel Tumirah Sang Mucikari adalah kedatangan para ninja menyusup diam-diam ketika para pelacur sedang ajojing dangdut. Para ninja mengacau, mengobrak-abrik bangunan bordil, menendang, melempar, dan membakarnya. (2) Tokoh Minah adalah pelacur yang berwatak pandai, sopan, dan penurut. Tumini berwatak genit, disukai para lelaki pembeli nafsu, sedangkan Lastri gadis cantik berwatak sombong. Watak datar adalah watak tokoh-tokoh dalam cerita drama yang bersifat statis. Tokoh Sukab, Mahmud, ninja-ninja, peronda, dan hakim adalah berwatak datar. Watak para tokoh tidak begitu dominan dipaparkan. hanya diam dan tidak bergarak. (3) Kekerasan struktural dan personal sebagai berikut. Kekerasan struktural dalam drama Tumirah Sang Mucikari didasari bentuk tindakan kekerasan yang tidak terlihat namun dapat dirasakan. Para tokoh seperti Tumirah, para pelacur, dan Sukab merupakan korban kekejaman, kejahatan, kekerasan dan kelicikan. Secara pisikologis, para tokoh mengalami ketakutan dan kebimbangan. Kemudian imbasnya para tokoh Tumirah, para pelacur, dan Sukab terganggu jiwanya. Kekerasan personal dalam drama Tumirah Sang Mucikari didasari hiruk-pikuk kekuasaan dan masih lemahnya struktur sosial sehingga masyarakat melakukan segala cara untuk mendapatkan kekuasan, yaitu dengan cara menghilangkan nyawa seseorang, mudah di provokator dan melakukan penganiayaan, pemukulan, pemerkosaan serta hukuman picis.

Kata kunci: Kekerasan Struktural dan Personal drama Tumirah Sang Mucikari

Full Text:

PDF

References


Baryadi, I. Praptomo. 2002. “Bahasa dan Kekerasanâ€. Yogyakarta: makalah panitia PIBSI XXIII Universitas Ahmad Dahlan, Gama Media.

Sudjiman, Panuti. 1988. Memahami Cerita Rekaan. Jakarta: Pustaka Jaya.

Suharianto. S. 1982. Dasar-dasar Teori Sastra. Surakarta: Widya Duta.

Sumardjo, Yacob.1979. Masyarakat dan Sastra Indonesia. Yogyakarta: CV. Nur Cahaya.

Tjahjono, Libertus Tangsoe. 1988. Sastra Indonesia: Pengantar Teori dan Arpesiasi. Ende: Nusa Indah.

Windhu, I. Marsana. 1992. Kekerasan dan Kekuasaan Menurut Johan Galtung. Yogyakarta: Kanisius.




DOI: https://doi.org/10.31932/ve.v6i2.117

Article Metrics

Abstract view : 628 times
PDF - 459 times

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2018 VOX EDUKASI: Jurnal Ilmiah Ilmu Pendidikan



Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.